Conference

http://www.kitlv.nl/event/symposium-stories-storytelling-indonesian-archipelago-leiden-asia-year/

Advertisements

CFP – Education, migration, and translation (U of Otago)

Asian Australian Studies Research Network (AASRN)

otago logoResearch Symposium, Sunday 26 November 2017

Hosted by the Centre for Global Migrations, Dunedin, University of Otago

Keynote speaker: Professor Michael Singh (Western Sydney University)

In educational contexts, those who experience or encounter migration in its many manifestations will negotiate linguistic, cultural and/or epistemological translation. Translation allows people to move between languages, social and behavioural norms, ideas, interpretations, and individual and collective meanings. However, (mis)translation also risks misunderstanding. Historically, translation and language loss have occurred alongside colonisation, and colonial relations continue in university ranking methodologies and academic publishing processes that privilege the English language. Indigenous perspectives demand attention to the purposes and outcomes of education at all levels, including the role of education in promoting both language loss and language revitalisation.

View original post 334 more words

Technology and dance

How dance has advanced so much in using technology. In Indonesia there is still a scarcity of scholars able to use the classic Laban sytem and only a handful recently becoming reaware of the dance  film genre. Recently the dance film genre has become a new interest for choreographers  in Indonesia. Also a recent collaboration between the Japan Foundation and  the Faculty of Performing Arts Dance Department at the Jakarta Institute for the Arts presented the work of a Japanese choreographer  from the group Nibrol, performed by the dance department and alumni using  video mapping in this artistic work.

Kerjasama Japan Foundation dan Program Studi Tari, Fakultas Seni Pertunjukan,  Institut Kesenian Jakarta,

 

Pada tanggal 30 Maret 2017 di venue kampus IKJ Teater Luwes, telah terselenggara pertunjukan Nibroll yang merupakan karya kolaborasi seniman Jepang  dengan Program Studi  Tari IKJ. Karya yang dipentaskan berjudul   “Real Reality” merupakan sebuah upaya untuk mempromosikan pemahaman dan  fokus baru kepada negara-negara Asia, sebagaimana disampaikan perwakilan dari Japan Foundation  Daisuke Kato.

 

Ibu Malona Sri Repelita Wadek Bidang Kerjasama FSP IKJ, menyampaikan dalam sambutannya, bahwa ide pertunjukan Nibroll menggunakan videomapping, yang telah berkembang dalam global culture dan technology. Karya yang disajikan malam itu di Teater Luwes adalah hasil workshop yang berlangsung selama 5 hari-25 Jam di Studio C Gedung FSP. Peserta workshop terdiri dari mahasiswa dan alumni  prodi Tari dan FFTV, dan merupakan peristiwa pertama kali dipentaskan oleh penari yang bukan anggota Nibroll. Sambutan sang Koreografer Mikuni Yanaihara sebagai  perwakilan dari Nibroll menyampaikan bahwa mereka biasanya bekerja dengan seniman profesional. Selanjutnya Mikuni menyatakan bahwa, “ Workshop koreografi yang diikuti 9 mahasiswa tari IKJ memperlihatkan bahwa masing-masing memiliki personality unik dan ternyata mampu membuat karya saya menarik.”

 

Karya dengan judul “Real Reality” menyampaikan suatu refleksi mengenai apa yang nyata serta  batas antara hidup dan mati. Adegan yang digarap berangkat dari gagasan memory dan mempertanyakan mana memory yang nyata (real) dan mana yang merupakan ilusi. Harapan sang koreografer adalah penonton dapat mencari makna dari apa yang real dan tidak real, mana yang memory real dan mana memory bukan real.

 

Rangkaian adegan Real Reality

 

Enam layar putih membentang sebagai latar. Sembilan penari masuk, berlari mengenakan baju putih hitam. Di layar terlihat ada bayang-bayang berkelebat. Interaksi penari dan bayang-bayang terjadi sebagai dialog aksi reaksi. Penari berlari dan bergerak seolah menabrak layar dan bayang-bayang  muncul bagai asap dari tepukan penari.  Kesembilan penari tersebut kemudian menjatuhkan tubuhnya dan diam memberi kesan  pingsan, lalu  satu penari berdiri pelan. Di latar layar muncul visual animasi suicide yang menampilkan gambar seorang remaja menggantung diri. Kata-kata menggema “I really don’t know anyone, I have no words, I have no memory” terdengar repetitif mengukir sayat-sayat rasa mengiringi gambar animasi. Visual dari remaja-remaja yang menggantung diri semakin banyak memenuhi layar-layar hingga ke semua ruang dinding dan lantai pertunjukan.. Visual yang memenuhi ruangan pentas disorot ke layar-layar juga ke dinding-dinding dan kata-kata sembilu berkelindan dengan rasa nyeri. “I cant forget, I can’t remember, thats all, I really don’t know anything”

 

Musik berubah menjadi denting piano sedang  di layar gambar remaja menggantung diri bermetamorfosis menjadi digital clock. Satu penari bangun lalu bergerak mengguncang bangunkan temannya yang pingsan. Animasi kemudian berubah menjadi garis-garis cahaya seperti riak air. Para penari berdiri, jatuh, berdiri dan jatuh berulang kali. Di layar animasi warna menjadi biru, merah lalu berubah kembali menjadi lautan angka yang kemudian menghilang.Visual berkembang menjadi ranting-ranting pohon kering yang lalu tumbuh  membesar berwarna putih, hitam, merah, hitam. Visual ini bertransformasi menjadi animasi lautan benda-benda keseharian.

 

Adegan berpasangan menampilkan dialog tubuh antara Fitri dan Irfan. Sambil bergerak dan berinteraksi layaknya perasaan menggelora sepasang remaja, mereka berdua menari sambil menegaskan kata “yes!”, “no!” Ketika mereka menarikan gerakan seperti  menelpon, di layar belakang visual serpihan salju-salju  bergerak terus mendorong arus yang membuat penari melompat dan langsung menjatuhkan tubuh. Penari Pane dan Ega kemudian juga membawakan sequen berpasangan. Setelah adegan pax de deux,  masuk penari-penari lain menari sambil menghamburkan kain-kain berwarna putih. Penari-penari tersebut meneriakkan jeritan-jeritan dengan gaya masing-masing lalu menjatuhkan diri. Tinggal Ega dan Pane yang terus menerus meneriakkan kata “Yes!”, “No!”.

 

Di antara tubuh-tubuh yang bergelimpangan, satu penari berdiri dan bervibrasi dengan tubuh bergetar-getar melayang. Musik berubah menjadi vokal opera. Adegan ini  dilatari  visual peristiwa perkotaan Jakarta; traffic, gedung bertingkat, tukang sapu, kaum miskin kota yang kemudian melebur menjadi sebuah visual distorsi. Penari-penari pelan-pelan melipat kain-kainnya dan mengumpulkan kain-kain tersebut dan menumpuknya dengan rapih. Di layar juga tampil sekelebat visual tarian Papua. Penari kemudian bertepuk tangan, berirama saling mengisi. Tempo tepukan mengiringi penari bergerak mengekspresikan gerakan-gerakan tarian tradisi. Di layar visual berubah menjadi warna seperti garis yang rusak. Musik berubah menjadi bunyi perkotaan, layar-layar didorong penari pindah-pindah mengisi ruang panggung. Ending yang menutup pertunjukan mengusung keheningan yang diselingi keindahan bunyi air menetes. Visual garis warna yang menjadi satu warna melintasi enam  layar. Cahaya menghilang berubah menjadi bayang-bayang dan panggung gelap.

 

Sebuah pertunjukan kolaborasi luar biasa dan membanggakan bahwa mahasiswa IKJ dalam waktu singkat dapat mempelajari dan membawakan karya Nibroll dengan mengesankan.  Kelompok tari Nobroll didirikan tahun 1997 didirikan oleh Mikuni Yanaihara seorang Professor spesialis Performing Arts di Fakultas Sastra, Seni dan Budaya Kindai. Yanaihara telah menampilkan banyak pementasan di luar Jepang melebarkan aktifitasnya ke negara-negara Asia beberapa tahun ini. Tahun 2015 ia terpilih sebagai Utusan Budaya Jepang oleh Badan Nasional Utusan Budaya Jepang serta melakukan penelitian terkait tari dan teater di 6 Negara Asia Tenggara.

 

Japan Foundation didirikan pada bulan Oktober 1972 merupakan satu-satunya lembaga Jepang yang berdedikasi untuk mendukung petukaran budaya Internasional secara komprehensif di seluruh dunia, dan bertujuan untuk meningkatkan dan mempererat persahabatan antara Jepang dan dunia melalui budaya, bahasa, dan dialog, the Japan Foundation menciptakan kesempatan global untuk mengembangkan persahabatan, kepercayaan, dan kesepahaman. (MPI)

 

Choreographer/Direction: Mikuni Yanaihara

Video Projection/Lighting: Keisuke Takahashi

Music: SKANK

Assistant Choreograph: Fumiko Ishigaki

Production: precog

Ketua Program Studi Tari: Ery Ekawati

Project Officer: Hanny Herlina

Dancer    : Dwi Maharani Pane

         Fitri Anggraini

  1. Anugrah Sepdiansyah

         Irfan Setiawan

         Rayi Utaminingrum

         Korinta Cyntia Delfi

         Sylvi Dwinda Aurelia

         Putri Ayu Wulandira Handayani

        Ciota Inkani Tarigan
Produced by Nibroll, Institut Kesenian Jakarta, Supported by Arts Council Tokyo, Japan Foundation

 

References

http://dancemagazine.com/inside-dm/in-training-behind-the-lens/

Permainan KIM

Tulisan menarik yang merupakan catatan mengenai budaya di Sumatera Barat

Catatan St.Nagari

Salah satu kupon yang dipakai dalam permainan KIM

Kesenian Irama Minang (KIM) merupakan salah satu jenis pertunjukan hiburan di Minangkabau. Kerap digelar untuk memeriahkan suatu acara semisal reuni, ramah tamah, silaturahmi, dan lain-lain judulnya. Kami mula mengenail jenis hiburan ini tatkala bertugas di Kota Arang, setiap malam Ahad diadakan permainan KIM guna menarik orang agar ramai berkumpul.

Sesuai dengan namanya Kesenian Irama Minang (KIM), permainan ini dimainkan dengan diiringi dendangan berbagai tembang lagu. Lagu yang didendangkan kebanyakan ialah Lagu Minang, Melayu, dan pada saat sekarang ditambahi dengan lagu pop, India, bahkan Barat. Tentunya dengan Lidah Minang yang kentara. Permainan ini dipandu oleh satu orang yang bertugas mengambil nomor dalam wadah yang telah disediakan sambil menendangkan lagu.

Setiap nomor yang diambil akan diumumkan dengan cara menyalipkan pada setiap tembang yang didendangkan. Oleh karena itu para pendengar mesti menyaringkan telinga benar-benar. Karena semakin lama permainan maka tempo tembang yang didendangkan semakin cepat…

View original post 311 more words

Conferences in 2017

ACAH2017: Call For Papers



The Asian Conference on Arts and Humanities 2017

Conference Theme: “History, Story, Narrative”

Thursday, March 30 – Sunday, April 2 2017






Abstract Submission Process


In order to present at the conference, your abstract must first pass a double blind peer review. Upon payment of registration fees, your presentation will be confirmed. Learn more about conference streams.

Deadlines

  • Abstracts submission: Extended to January 15, 2017
  • Results of abstract reviews returned to authors: Usually within two weeks of submission
  • Full conference registration payment for all presenters: February 15, 2017
  • Full paper submission: May 2, 2017

Silat talkshow at Parung Indonesia

https://www.instagram.com/p/BG9_yYrKwuM/silat talkshow

This morning I was browsing instagram  when I should be writing down my research, but then I found a talkshow on silat going to be held  near the area where I live:). There will a lot of practitioners, and from the pictures it will be held at a mosque and all male. Hmmmm will they let me in?

So why as a dance enthusiast am I interested in silat a martial arts form in Indonesia? Many traditional dances in Indonesia are an aesthetic  form of silat movements. Silat is an embodiment of bodily movement, self defence technique,  philosophical thinking and spirituality. The traditional silats have been usually passed down from generation to generation in a closed membership since centuries, sometimes only through familial relations. IPSI the National Silat organization has transformed the traditional silat into a competition sports.  The traditional movements can be seen through dances and traditional performing arts. It has also been a source for contemporary choreographers. At this talkshow there will be Eddy Nalapraya a prominent figure of IPSI. Hope I will be given a chance to speak with him on the philosophical side of silat in the artistic practice. :).

Turning Down the Heat in the Kitchen

Tales Told Out of School

So I wrote this post a month or so ago, tried to find a venue for it, but nobody bit.  The issues it examines have continued to weigh on me, however, and I wanted to get it “out there.”  So I give it to you here instead.

*****

I recently attended a conference where a plenary discussion wound up focusing on the challenges faced by junior faculty who had to contend with difficult and even abusive colleagues. Not surprisingly, these individuals had struggled, due to the precariousness of their status, to find satisfactory solutions. What was especially troubling, however, were tales of senior colleagues who essentially told them to suck it up and move on. Then a few weeks later a piece appeared in the Chronicle of Higher Education that highlighted the dilemma of verbal abuse in the academic workplace.  I dove in with heightened interest since the conference’s discussions…

View original post 799 more words